Saatnya membuka lembaran baru

Rabu, 11 Januari 2012 20:47:42 - Posting by admin - 737 views

Saatnya membuka lembaran baru

Kini, kalender Hijriyah telah berganti dengan tahun yang baru. Itu bertanda bahwa kita telah memasuki babak baru dengan lembaran catatan baru pula. Beragam aktivitas telah kita jalani dan berabagai fenomena hidup telah kita hadapi. Semua itu tak lain merupakan rangkaian proses hidup yang berawal dari pergolakan pemikiran yang tertuang nyata dalam perbuatan. Itulah sunnatullâh.

Dalam catatan kita, tentu ada banyak ‘coretan’ pengalaman. Layaknya sebuah catatan, tentu di dalamnya ada yang baik dan ada yang buruk. Adakalanya catatan nilai kebaikan lebih mendominasi takarannya dibanding yang buruk, atau sebaliknya. Tergantung bagaimana yang bersangkutan menjalani kesehariannya. Jika takaran nilai baiknya yang paling mendominasi, maka tentu perlu dipertahankan—atau bahkan ditingkatkan. Namun bila yang buruk lebih mendominasi, maka tak selayaknya berputus asa, sebab Allah SWT adalah Dzat yang Maha Penyayang dan Pemurah pada segenap makhluk-Nya.

Ada saatnya kita membuka lembaran baru, berupaya mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang pernah terjadi sebelumnya, serta memohon kepada Allah SWT semoga berbagai catatan buram itu diampuni-Nya. Rasulullah SAW pun dalam memotivasi umatnya agar senantiasa optimis dalam melakukan kebaikan, menyerukan bahwa orang yang layak dikatakan sukses adalah mereka yang kondisinya sekarang lebih baik dari kemarin, dan senantiasa berupaya untuk menyongsong hari esok dengan kondisi yang lebih cemerlang dari hari ini.

Maka dari itu, untuk menebus berbagai kealpaan yang pernah terjadi, dengan semangat tahun baru Islam kali ini, maka sudah saatnya kaum muslimin ‘berhijrah’ dari perilaku yang tercela, sia-sia dan berbagai hal yang negatif menuju pada tindakan riil nan baik yang lebih maslahah dan manfaat. Kita bisa memulainya dengan mengamalkan terhadap apa yang pernah disampaikan oleh Syaikh Abul Hasan asy-Syadzily RA, “Guruku, Syaikh Abdus Salam bin Masyisy RA, pernah berwasiat kepadaku: Jangan engkau melangkahkan kaki kecuali untuk sesuatu yang dapat mencapai keridhaan Allah SWT, Jangan duduk di sebuah majelis kecuali yang aman dari murka Allah SWT (bukan maksiat). Jangan bersahabat kecuali dengan orang yang dapat membantumu berbuat taat kepada Allah SWT. Dan, jangan memilih sahabat karib kecuali yang menambah keyakinanmu kepada Allah SWT. Kendati kini, hal tersebut sangat jarang ditemui.”(dalam muqaddimah kitab al-Hikam, karya as-Syaikh Ahmad bin Athaillah as-Sakandary).

Berkaitan dengan hal di atas, selain kita berikhtiar sekuat tenaga untuk ‘hijrah’, perlu diingat bahwa di sisi lain kita harus terus waspada, bagaimanapun dan kapanpun setan tak akan pernah berpangku tangan melihat upaya baik yang dilakukan anak-cucu Adam. Setan akan selalu melakukan tipu daya untuk menumbangkan dan menggagalkannya. Hal ini karena memang adalah nash, jika ia merupakan musuh bebuyutan manusia. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya setan itu musuhmu, maka waspadalah selalu dari tipu daya musuhmu itu.” (QS. Fâthir [35]: 06).

Namun, kita mesti tetap optimis dalam perjalanan ‘hijrah’ itu. Kita yakin bahwa Allah SWT senantiasa bersama kita dan pasti akan menolong kita. Inilah janji yang Allah SWT berikan kepada orang-orang yang bertakwa dan yang senantiasa berbuat baik. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. an-Nahl [16]: 128). Wallâhu a’lam.

 Sumber:Buletin Tauiyah PPS.

Tags #baru #lembaran #membuka #saatnya