Klasifikasi hadits dan eksistensinya

Rabu, 11 Januari 2012 20:58:42 - Posting by admin - 1563 views

Klasifikasi hadits dan eksistensinya

 

A. Hadits Shahih Li Dzâtih (Shahih Yang Memenuhi Kriteria)

Hadits Shahih adalah hadits yang muttasil sanadnya (jalur periwayatan), melalui perawi yang terpercaya (al-Adl) dan mempunyai tingkat akurasi hapalan/ tulisan yang tinggi (al-dhabth), tidak bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan mayoritas ahli hadits (Syadz) serta selamat dari cacat (al-’Illat).

Orang yang pertama kali meprakrarsai pengumpulan hadits-hadits Shahih adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari yang kemudian di lanjutkan oleh muridnya Muslim bin al-Hajjaj al-Naisabury. Meskipun dalam kurun sebelumnya sudah dilakukan hal serupa oleh Imam Malik, hanya saja disinyalir masih ditemukan hadits lain yang kurang begitu jelas jalur periwayatannya. Dan hadits dari al-Bukhari lebih di unggulkan di banding hadits dari Muslim terutama karena beliau menetapkan persyaratan dalam hadits muan’an bahwa masing-masing perawi harus ditetapkan bertemu atau mendengar langsung darinya.

Syarat Hadits Shahih :

1. Al-Ittishâl : maksudnya, setiap perawi hadits ini harus benar-benar bertemu dan mendapatkan pengajaran dari perawi seatasnya. Hal ini mengecualikan hadits mursal dan Munqathi’.

2. Al-’Adalah fi al-Ruwwat : maksudnya, setiap perawi harus mempunyai karakter kejiwaan yang selalu mendorong kepada ketakwaan, menjauhi kemaksiatan serta terjaga dari hal-hal yang mengakibatkan pelanggaran etika sosial.

3. Al-Dhabth : yakni seorang perawi harus mempunyai akurasi tinggi dalam hapalan baik dengan melalui daya hapal dalam hati maupun lewat tulisan.

4. ‘Adam al-Syudzûdz : dalam artian, hadits yang disampaikan seorang perawi tidak bertentangan dengan penyampaian perawi yang lebih terpercaya baik karena lebih banyak jumlahnya atau lebih akurat hapalannya.

5. ‘Adam al-I’lal : dalam hal ini sebuah hadits harus terlepas dari setiap hal yang mempengaruhi keshohihan hadist dan hal ini hanya diketahui ahli hadist.

 

Klasifikasi Hadits Shahih

Al-Hâkim dalam al-Madkhal menyampaikan, bahwa hadits yang bisa dikategorikan shahih adalah sepuluh jenis, lima di antaranya disepakati dan lima yang lain diperselisihkan (sebagian menganggap shahih sebagian tidak). Kelima jenis yang disepakati adalah sebagai berikut :

1. Hadits yang dicantumkan oleh al-Bukhâri dan Muslîm. Adalah menduduki peringkat tertinggi dalam kualitasnya, dan jumlahnya kurang dari sepuluh ribu hadits.

2. Hadits shahih dari periwayatan perawi adil yang dhâ’bth dimana ia juga meriwayatkan dari satu perawi lain yang juga adil yang dhâ’bth hingga sampai shahâbat.

3. Hadits-hadits yang diriwayatkan segolongan Tâbi’în dan hanya mempunyai satu perawi.

4. Hadits-hadits afrâd dan gharîb yang diriwayatkan segolongan perawi tsiqah yang semuanya adil yang kemudian diriwayatkan satu perawi tsiqah dan tidak ada jalur yang disebutkan dalam beberapa kitab.

5. Hadits yang diriwayatkan para Imam hadits dari bapak-bapak mereka, dari kakek-kakek mereka dan hal semacam itu mutawatir hanya dari mereka.

 

Sedangkan yang masih diperselisihkan :

1. Hadits Mursal, di mana hadits ini shahih menurut Ahli Kûfah.

2. Hadits Mudallas yang tidak menyebutkan sama’ (pengakuan telah mendengar hadist dari guru). Hadits ini shahih menurut sebagian Ahli Kûfah.

3. Hadits yang diriwayatkan seorang perawi tsiqah dari beberapa perawi tsiqah yang lain dan mereka meriwayatkannya dari para Imam dengan status hadits musnad. Namun setelahnya diriwayatkan oleh babarapa perawi tsiqah dengan dimursalkan.

4. Hadits riwayat seorang ahli hadits yang shahih sama’nya, shahih kitabnya dan kelihatan sifat adil lahiriahnya, akan tetapi dia tidak mengerti sekaligus tidak hafal apa yang ia riwayatkan. Jenis ini shahih menurut mayoritas ahli hadits.

5. Hadits riwayat ahli bid’ah dan sering mengikuti kepentingan mereka. Menurut ahl al-’Ilm dapat diterima, ketika mereka jujur dalam periwatannya (al-Hâwi li al-Fatâwî, juz. II hal. 136-137).

 

Eksistensi Hadits Shahih

Ulama Ahli hadits, ulama ushul, serta ulama fiqh menyepakati bahwa hadits shahih baik perawinya hanya satu ataupun hanya beberapa orang saja, semuanya wajib untuk diamalkan. Hanya saja khusus dalam masalah pengamalan dan kewajiban akidah yang dilandasi hadits Ahad ulama berselisih paham. Karena mayoritas ulama memberikan standar nash Al-Qur’an dan hadits mutawatirlah yang dapat dijadikan pijakan akidah.

 

Kitab-kitab Hadits Shahih

1. Al-Muwatha’, karangan Imam Malik bin Anas

2. Al-Jami’ Al-Shahih Al-Bukhari, karangan Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al-Bukhari Al-Ju’fi

3. Shahih Muslim, karangan Imam Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naysabury.

4. Shahih Ibn Huzaimah, karangan Abi Abdillah Wa Abi Bakar Muhammad bin Ishaq bin Huzaimah.

5. Shahih Ibn Hibban, karangan Abi Hatim Muhammad Ibn Hibban Al-Busti, murid Ibn Huzaimah.

6. Al-Mukhtarah, karangan Dziyauddin Muhammad bin Abdul Wahid Al-Maqdisi.

 

Kitab-kitab Mustadrak Dan Mustakhraj :

1. Al-Mustadrak ‘Ala Al-Syaikhain, karangan Abi Abdillah Muhammad bin Abdillah Al-Hakim Al-Naysabury.

2. Al-Mustakhraj li Al-Ismaily, Al-Mustakhraj li Al-Barqani, Al-Mustakhraj li Abi ‘Awanah, Al-Mustakhraj li Abi Ja’far bin Hamdan, Al-Mustakhraj li Abi Nuaim Al-Ashfihani, dan Al-Mustakhraj li Abi Abdillah bin Al-Ahram.

 

B. Hadits Hasan Li Dzâtih (Hasan Karena Memenuhi Kriteria)

Hadits hasan adalah hadits yang muttasil sanadnya (jalur periwayatan), melalui jalur orang yang terpercaya (al-Adl), selamat dari sifat syadz dan al-’Illat, seperti dalam hadits Shahih. Hanya saja perawinya mempunyai tingkat akurasi hapalan/ tulisan sebawah perawi hadits Shahih.

Eksistensi Hadits Hasan

Keseluruhan ulama ahli fiqh serta mayoritas ulama hadits dan ushul menyetujui hadits hasan sebagai dalil yang dapat diterima serta diamalkan.

Kitab-kitab Hadits Hasan

1. Sunan Al-Turmudzi, karangan Abi Isa Muhammad bin Isa bin Surah Al-Turmudzi

2. Sunan Abi Dawud, karangan Abi Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats Al-Sajastani.

3. Al-Mujtaba (Sunan An-Nasâi), karangan Abi Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib Al-Nasâi.

4. Sunan Al-Musthofa, karangan Ibn Majah Muhammad bin Yazid Al-Qazwaini.

5. Al-Musnad, karangan Ahmad Ibn Hambal.

6. Al-Musnad, karangan Abi Ya’la Al-Mushali Ahmad bin Ali bin Al-Matsna.

 

C. Hadits Shahih Li Ghairihi (Shahih Karena Hadits Lain)

Adalah hadits hasan yang memenuhi kriteria hasan (li dzatihi) dan kemudian dijumpai periwayatan dari jalur lain yang sama atau lebih kuat statusnya (Shahih).

D. Hadits Hasan Li Ghairihi

Adalah hadits yang tergolong dla’if yang tidak terlalu, dimana perawinya dzaif namun tidak sampai menurunkannya dari derajat perawi terpercaya lainnya. Atau tergolong mudallis yang tidak secara jelas dipaparkan ulama lain, serta mungkin sanadnya tergolong munqathi’. Dalam hal ini supaya masuk dalam pengertian hasan li ghairihi, disyaratkan dua hal. Pertama, tidak terkena sifat syadz dalam haditsnya. Dan kedua, dijumpai riwayat dari jalur lain yang sama atau lebih kuat secara lafadz ataupun makna, meskipun hanya cocok dalam sebagian isi matannya. Dicontohkan seperti hadits-hadits yang tercantum dalam Sunan Al-Turmudzi, dengan bahasa “hadits ini adalah hasan”.

 

* Istilah-Istilah Lain Dari Hadits Shahih Dan Hasan

Jayyid dan Qawiy, menurut al-Hafidz ibnu Hajar, istilah ini tidak ada perberbedaan dengan shahih, seperti ungkapan at-Turmudzi “hadza haditsun jayyidun hasanun“. Hanya saja, pengistilahan dengan Jayyid atau Qawiy dilakukan untuk menunjukkan bahwa ada peningkatan tingkat kevalidan hadits semisal dari hasan li dzatihi meningkat sedikit di bawah shahih. Dengan demikian istilah Jayyid dan Qawiy derajatnya di atas hasan dan masih di bawah tingkatan shahih.

Shâlih, biasa digunakan untuk mengistilahkan hadits shahih, hasan dan juga hadits dha’if yang tidak terlalu.

Ma’ruf, sebagai istilah dari hadits yang diriwayatkan orang terpercaya (tsiqah) yang berbeda dengan periwayatan perawi yang lemah.

Mahfûdz, istilah untuk hadits yang diriwayatkan orang terpercaya (tsiqah) dengan periwayatan yang berbeda dengan perawi yang kevalidannya berada pada level di bawahnya (belum tentu lemah).

Mujawwad dan tsâbit, sebagai istilah lain dari hadits shahih dan hasan.

Al-Musyabbah, ungkapan untuk mengistilahkan hadits hasan dan hadits-hadits yang hampir mendekati derajat hasan.

 

(bersambung ke bagian 2)

Tags #dan #eksistensinya #hadits #klasifikasi