Mari Menulis!

Jum`at, 9 November 2018 16:08:25 - Posting by Syakir - 424 views

Mari Menulis!

“Kalau kamu bukan anak Raja (Bangsawan), atau trah Ulama’ (Darah Biru) maka jadilah Penulis!”

Demikian kurang lebih arti dari terjemahan bebas pernyataan yang pernah disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad at-Thusi al-Ghazali, seorang ulama kesohor dan  populer dengan karya monomentalnya kitab Ihya’ Ulumiddin yang kemudian kita kenal dengan sebutan Imam Ghazali.

Ungkapan diatas, selain merupakan anjuran dari beliau, juga sebagai angin segar sekaligus jalan penerang bagi kalangan dengan strata sosial menengah kebawah untuk sedapatnya berprestasi dan berkarya melalui dunia kepenulisan meskipun tidak termasuk dari kalangan tiga garis genetika diatas. Karna hakikatnya untuk menjadi orang yang sukses dan dikenal, seseorang harus bisa menghasilkan karya, salah satunya dengan menjadi penulis.

Namun demikian, pekerjaan menulis memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Bisa dibayangkan, untuk sekedar menulis biasa saja – terlebih lagi menulis karya ilmiyah – dibutuhkan peran pendukung lain yang cukup; wawasan, kesabaran, ketelatenan dan tentunya harus banyak membaca, serta semua hal yang ada hubung-kaitnya dengan dunia kepenulisan yang harus kita miliki sebelumnya. Menulis dalam perjalanannya tetaplah harus juga menemui jalan terjalnya.

Diakui atau tidak, bahwa dunia kepenulisan pada senyatanya adalah sebagai peneguhan terhadap eksistensi. Dengan menulis, seseorang seperti sedang mencoba meneguhkan keilmuan mereka dalam kehidupan yang semakin hari semakin kompetitif. Dengan begitu artinya seseorang akan diakui bahwa ia telah memberi sumbangan berharga dalam kehidupan sepanjang ia mampu menggelontorkan ilmu yang ia miliki, paling tidak dalam sebuah karya nyata. Menulis bukanlah suatu hal yang dapat menghambat aktifitas keilmuan kita untuk tetap bisa membaca, mengkaji dan memahami beberapa disiplin ilmu (yang wajib) kita pelajari tetapi sebaliknya menulis adalah salah satu media bagi kita untuk sedapatnya meng-aplikasi-kan semua hal yang kita peroleh dari membaca, mengkaji dan memahami.

Kaitannya dengan hal diatas, jangan sampai setelah sekian lama kita membaca pelbagai disiplin ilmu lalu kita biarkan begita saja dengan menyimpannya rapat-rapat dalam kepala kita. Hal ini harus kita hindari dengan cara menuangkan buah pikiran kita dalam bentuk tulisan, termasuk salah satunya dengan menulis di media.

Swami Vivekananda mengungkapakan: jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan, pakailah pengetahuanmu untuk diamalkan. Bukankah ada sebuah ungkapan dikalangan Pesantren yang sering kita dengar dengan kedua telinga kita, bahwa “maa kutiba qorro wa maa hufidzo farro” sesuatu yang ditulis maka akan tetap terjaga, dan sesuatu yang dihafal maka akan cepat hilang. Ilmu akan tetap terjaga eksistensinya dalam bentuk tulisan, ungkapan lain terkait dengan hal ini adalah “sepudar-pudarnya tulisan masih lebih baik daripada pikiran yang baik tetapi tidak terlestarikan” karna ilmu ibaratnya adalah binatang yang gesit yang kalau kita tidak mengikatnya dengan cara ditulis maka akan lepaslah dia.

Dewasa ini, telah banyak bermunculan penulis-penulis dengan latar belakang Pesantren, mereka tidak hanya sekedar menulis tetapi juga mampu menyajikan karya yang baik dan bisa bersaing dengan para penulis non Pesantren. Sebut saja, KH. Saifuddin Zuhri, dengan karya Guruku Orang-orang Pesantrennya, Gus Dur, dengan berbagai macam karyanya, Gus Mus, dan Gus-gus yang lain dengan karya sesuai dengan latar belakang disiplin ilmu yang dimilikinya.

Fikih Ibadah, Fikih Muamalah, Fikih Jinayat, hingga Fikih kekinian lainnya, yang dapat dengan mudah kita temui di pasaran, adalah juga merupakan bukti konkrit betapa begitu produktifnya orang-orang Pesantren dalam menuangkan gagasan-gagasan ulama terdahulu dalam bentuk tulisan.

Terlepas dari itu semua, hal menulis bukan hanya sekedar media untuk mengasah wawasan, menguji kreatifitas dan mengukur produktifitas. Bahkan lebih dari itu, menulis bagi orang-orang tertentu juga bisa menjadi pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.

Mungkin apa yang pernah disampaikan oleh Sayyidina Ali Karroma Allahu Wajhahu “alaikum bi husni al khoththi, fainnahu min mafaatiihi ar-rizki” menulislah dengan baik, karena itu merupakan bagian dari pintu rizki, bisa juga berarti lebih  dari hanya sekedar gaya tulisan yang baik (baca: melukis; kaligrafi) tetapi juga bisa kita tarik kedalam konteks ini, yaitu menulis. Banyak yang mengatakan “karna aku menulis, maka aku ada”. 

Menulis tetaplah menjadi sebuah pekerjaan yang sangat mulia. Menulis juga merupakan bentuk lain dari rasa syukur atas nikmat Tuhan, karna dengan menulis, berarti kita telah menambah dan menjaga khazanah keilmuan kita. Mari menulis!

[Redaksi]

Tags ##nurulcholil #menulis

Post Categories
Terkini