Mudik Liburan, Santri Bawa Amanah Kiyai

Minggu, 18 November 2018 21:07:00 - Posting by Suryafajar - 359 views

Mudik Liburan, Santri Bawa Amanah Kiyai
Santri Pondok Pesantren Nurul Cholil berkumpul untuk mendengarkan petuah asaatidz dalam rangka liburan bulan maulid

Bangkalan, nurulcholil.net - Liburan atau mudik ke kampung halaman merupakan momen spesial bagi kaum sarungan, tidak terkecuali santri Ponpes Nurul Cholil, sebuah momen yang ditunggu- tunggu dari hari kehari, penuh dengan suka cita dan syarat dengan kenangan indah. Pada umumnya lembaga pendidikan pesantren yang menganut sistem kurikulum salaf menetapkan masa liburan santri sebanyak dua kali dalam setahun yaitu bulan Robiul Awal (semester awal) dan bulan Sya' ban (akhir semester) , sementara pesantren yang menganut sistem kurikulum formal (modern) mengikuti jadwal yang berlaku secara Nasional.

Dalam konteks liburan pesantren, secara psikologis para santri betul- betul merasakan kebahagiaan luar biasa, pasalnya para santri selama kurun waktu sekitar enam bulan "terisolasi di dalam tembok suci pesantren" sehingga praktis hubungan komunikasi dengan teman-teman di luar pesantren putus total, ibarat burung yang terkurung dalam sangkar atau istilah lain yang cukup familiar di kalangan santri yaitu "penjara suci". Nah, mengingat pola kehidupan pesantren yang serba terbatas, nampaknya cukup manusiawi jika dalam masa liburan menjadi ajang pelampiasan beragam keinginan para santri termasuk keinginan menikmati usia anak muda zaman now, bahkan terkadang ada yang berpikir ekstrim dan cendrung kebablasan pada sebagian santri bahwa dalam menikmati nuansa liburan seolah bebas dan halal melakukan perbuatan apapun. Betul, dalam masa liburan santri di berikan kebebasan melakukan akitifitas dan kegiatan apapun namun makna kebebasan itu bukan sebuah kebebasan mutlak tanpa adanya batasan seperti pemahaman islam liberal atau liberalisai pemikiran yang menafikan adanya sebuah rambu- rambu dan batasan dalam menghayati kaidah rumus ilahi, karena itu memahami arti liburan merupakan yang fundamental dalam kerangka menghindari arti liburan yang kebablasan atau penyalahgunaan fungsi dan tujuan terkait hari libur pesantren. Diantara batasan tersebut adalah adanya amanah dan pesan moral pengasuh atau Kiai. 

Pertama menjadikan momentum liburan sebagai sarana untuk membangun silaturrahin dengan keluarga, sahabat dan handai taulan serta berupaya menjunjung tinggi nama baik pesantren di tengah-tengah masyarakat.

Kedua membantu pekerjaan kedua orang tua dengan pengabdian yang tulus serta menjadikan momentum liburan sebagai sarana dan proses pembelajaran kehidupan sosial masyarakat.

Ketiga tidak melakukan perbuatan diluar batas kepatutan, seperti ugal-ugalan saat berkendara atau melakukan hal-hal yang dapat merusak dan mencederai prilaku seorang santri yang syarat dengan akhlak terpuji.

Keempat berupaya menghindari kelompok atau komunitas yang ditengarai terlibat dalam praktek jual beli obat terlarang seperti sabu dan saudara-saudaranya.

Kelima meneguhkan komitmen untuk kembali tepat waktu ke pesantren sesuai jadwal yang ditetapkan untuk menyelesaikan proses belajar mengajar di pesantren serta berupaya menggapai keberkahan kiyai dan orang tua. Semoga ridha Alloh SWT menyertai langkah para santri, Amin. 

 

        Selamat Berlibur.

Tags #

Post Categories
Terkini