Dapatkah Muslim dan Non muslim Indonesia bersaudara?

Kamis, 7 Maret 2019 14:47:09 - Posting by ncmedia - 165 views

Dapatkah Muslim dan Non muslim Indonesia bersaudara?

Indonesia merupakan Negara kesatuan yang memiliki segudang keunikan bilamana dibandingkan dengan negara-negara yang lain yang ada di dunia. Pernyataan ini tidak berlebihan, karena Indonesia memiliki 1.340 suku dan 1158 bahasa daerah. Dengan keanekaragaman ini Indonesia malah bisa bersatu. Bahkan sebaliknya, keanekaragaman ini malah menjadi kekuatan tersendiri bagi Indonesia.

Terlepas dari suku dan bahasa, Indonesia juga punya keberagaman agama yang dibalut eksotisme toleransi antar pemeluknya. Ini semua tak luput dari rasa persaudaraan bangsa Indonesia yang mengatasnamakan pesaudaraan satu tanah air Indonesia.

Tapi ada segelintir kelompok yang membuat kekacauan yang membawa-bawa almamater salah satu agama yang ada di Indonesia. Mereka beranggapan bahwa selain agama mereka harus dibunuh dan tidak ada persaudaraan diantara mereka. Lebih mirisnya, meskipun se agama dengan mereka akan tetapi beda pandangan, menurut mereka harus dimusnahkan dari dunia. Tapi pertanyaannya, dapatkah muslim dan non muslim Indonesia bersaudara? Mari kita jawab pertanyaan ini dengan perspektif Islam.

Apabila kita membahas suatu masalah dengan prespektif keislaman, maka pertama-tama yang harus kita bicarakan adakah keterangan tersebut di dalam sumber rujukan Islam? yakni al-Qur’an atau al-Hadits. Apabila kita telusuri, belum ditemukan dalil-dalil yang secara langsung menyatakan hal yang ditanyakan di  atas. Akan tetapi, tidak ditemukannya dalil yang dimaksud disini, bukannya tidak ada dalilnya sama sekali, bahkan banyak dalil yang secara tersurat menyatakan bahwa ada persaudaraan antara muslim dan non muslim yang dibalut persaudaraan kebangsaan.

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ 

Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (al-A’raf:65)

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ 

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)".(al-A’raf:73)

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ وَلَا تَنقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُم بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيطٍ 

Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)". (al-A’raf:85)

            Ayat-ayat diatas menjelaskan bahwa nabi-nabi yang disebutkan diutus kepada kaumnya yang notabene belum iman dan Allah sebut nabi itu adalah saudara mereka, ini mengindikasikan bahwa ada persaudraan yang sifatnya satu bangsa meskipun berbeda agama. Pernyataan ini bukanlah klaim pribadi daripada penullis karena ahli tafsir kenamaan al-Qurtubi beraragumen demikian :

قوله تعالى وإلى عاد أخاهم هودا أي وأرسلنا إلى عاد أخاهم هودا . قال ابن عباس أي ابن أبيهم . وقيل : أخاهم في القبيلة . وقيل : أي بشرا من بني أبيهم آدم..

Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Yakni aku utus kepada kaum ‘Ad saudra mereka nabi hud. Ibnu abbas berkata: yakni anak bapak mereka. Ada yang berkata saudara mereka dalam satu qabilah (sekarang bangsa) ada yang mengatakan: maksud saudara adalah keturunan dari ayah mereka Adam.

Dari apa yang disampaikan oleh al-Qurtubi jelaslah bahwasanya meskipun non muslim dan muslim tidak bersaudara dalam satu agama tetapi tetap bersaudara dalam ikatan bangsa. Bahkan apabila dilihat lagi dari penuturan al-Qurtubi satu dunia dapat bersaudara dalam ikatan sesama anak Adam. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk saling memusuhi satu dengan yang lainnya apalagi memerangi.

 

By: Mochamad Hamim

 

 

Tags #

Post Categories
Terkini