Latar Belakang Terbentuknya HISAN

Kamis, 5 September 2019 22:14:25 - Posting by ncmedia - 1478 views

Latar Belakang Terbentuknya HISAN
Tangkapan Drone Pondok Pesantren Nurul Cholil

Bagi masyarakat Madura—khususnya di Kabupaten Bangkalan sendiri—nama HISAN (Himpunan Santri, Alumni dan Simpatisan Pondok Pesantren Nurul Cholil) sudah tidak asing lagi. HISAN memiliki program dan aktivitas sendiri yang harus dilaksanakan oleh setiap cabang, seperti mengadakan acara  yang diselenggarakan setiap tahun, seperti pengajian dan Halal Bihalal. Yang hadir dalam acara tersebut adalah semua santri aktif, alumni, simpatisan dan majelis keluarga pondok pesantren. Tujuan utama dari agenda tersebut untuk  menjalin hubungan santri, alumni dan simpatisan dengan majelis keluarga Pondok Pesantren Nurul Cholil dan masih banyak lagi agenda dan kegiatan lainnya.

HISAN dibentuk pada tahun 1998 M. akhir. Bermula dari peristiwa yang dialami KH. Tamhid Tirmidzi, Lc—Pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Asror, Melajah, Bangkalan—, waktu itu beliau dipanggil (edhikanin) oleh Syaikhina KH. Zubair Muntashor. Ba Tamhid (sapaan akrab KH. Tamhid Tirmidzi, Lc) lalu sowan ke dhalem KH. Zubair. Ditengah-tengah pesannya Syaikhina dauh pada Ba Tamhid, “Tirmidzi, bagaimana seandainya membentuk perkumpulan antar Alumni (de’ remmah jhe’ saumpamanah ebede’aghinnah perkompolan antar alumni. Madura Red.). Tanya Syaikhina.

Lalu Ba Tamhid menjawab, “Iya, itu bagus” (engghi, ka’dinto’ sae). Jawab Ba Tamhid penuh rasa ta’dzim.

Setelah itu  Ba Tamhid segera mendiskusikan keinginan Syaikhina itu bersama pengurus senior pesantren. Tak lama kemudian pengurus mengadakan pertemuan bersama alumni yang berada dan bermukim di Jakarta.

Pada awal tahun 1998 M. Ba Tamhid mendampingi safari syaikhina KH. Zubair Muntashor ke Jakarta. Setelah sampai di Jakarta, para alumni yang tinggal di sana mengadakan musyawarah, guna  menindak lanjuti keinginan syaikhina KH. Zubair Muntashor. Walhasil, musyawarah tersebut menghasilkan keputusan bahwa para alumni yang tinggal di sana telah bersepakat untuk membentuk perkumpulan alumni.

Sebagaimana sumber yang kami dapatkan dari Ba Tamhid Langsung, walaupun para alumni telah bersepakat membentuk perkumpulan alumni, namun masih ada satu persoalan yang masih belum disepakati, yaitu masalah nama resmi sebutan perkumpulan tersebut.

Akhirnya ditengah-tengah kebingungan para alumni tersebut Ba Tamhid memberikan usulannya, “Bagaimana kalau seandainya diberi nama HISAN,” usul Ba Tamhid dengan mantap.

Lalu Ba tamhid memperkuat usulannya itu dengan beberapa penjelasan. “Sebutan HISAN disamping artinya sudah sesuai dengan apa yang syaikhina inginkan yaitu Himpunan Santri dan Alumni Nurul Cholil,” imbuhnya.

Lalu Ba Tamhid membacakan firman Allah Swt., “

ْ{76 مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَان. {الرحمن: آية

Mereka bersandar pada bantal-batal hijau dan permadani-permadani yang indah.” (QS. Ar-Rahman:76.)” baca beliau dengan tenang .

Karena alasan itu Ba Tamhid mengatakan kalau nama HISAN sangat cocok untuk organisasi tersebut. Setelah ditawarkan pada semua anggota sidang yang telah mendengar penjelasan Ba Tamhid tadi, mereka akhirnya setuju dan bersepakat untuk memberi nama organisasi perkumpulan alumni itu dengan HISAN.

Setelah HISAN diresmikan sebagai media silaturrahim alumni PPNC pada 17 Juni 2000 M. dibentuklah badan pekerja yang bertugas melengkapi perangkat organisasi, mulai rekrutmen pengurus dan anggota, agenda kerja dan rutinitas anggota bulanan dan tahunan— termaktub dalam AD/ART—, tanpa disangka ternyata keberdakaan HISAN banyak menarik simpati dari berbagai kalangan. Banyak dari mereka yang telah memberikan dukungan dengan menyumbangkan sejumlah materi,  tenaga atau berupa finansial pada setiap acara HISAN dilaksanakan.

Syaikhina KH. Zubair Muntashor menuturkan pada pada Ba Tamhid tentang keanggotaan HISAN, “Orang-orang yang tidak pernah merasakan mondok tetapi sering membantu pondok itu harus diikut-sertakan dalam HISAN. Sebaliknya, walaupun alumni tetapi mereka tidak peduli terhadap Almamaternya, jangan diikutkan (Oreng makkeh lok toman mundhuk men semmak ka pondhuk, pangerteaghih. Makkeh alumni men lok semma’ ka pondhuk, dhinah jhe’ ghi’ panuro’). Tegas beliau.

Maka semenjak  saat itu anggota HISAN dibagi menjadi dua; Satu, anggota istimewa (simpatisan). Dua, anggota biasa (para santri dan alumni Nurul Cholil).

Tujuan berdirinya HISAN

Ba Tamhid– pencetus nama HISAN sekaligus pertama kali yang menjabat ketua HISAN– mengatakan, bahwa kebesaran pondok pesantren, tergantung kebesaran para alumninya. Jika alumninya besar maka pondoknya juga akan besar.

Kebesaran suatu pesantren tergantung seberapa besar alumninya,” ungkapnya.

Masih menurut Ba Tamhid, diantara yang menjadi kronologi berdirinya HISAN adalah sebagai berikut:

Pertama; perintah (pakonan. Madura. Red) dari  syaikhina KH. Zubair Muntashor, setelah beliau melihat bahwa banyak alumni yang tidak saling mengenal antara satu sama lain.

Kedua;  menjaga ajaran Ahlussunah waljama’ah, Islam Moderat (tawassut dan tawazun) yang berakhlakul karimah dan agar terhindar dari ajaran-ajaran Liberalisme, radikalisme dan intoleran atau ajaran-ajaran yang tidak sepaham dengan Aswaja.

Ketiga; terjalinnya hubungan silaturrahim antara guru dan murid.

Keempat; agar terjalin kekompakan.

Kira-kira empat poin itu tujuan pokok HISAN. Setidaknya, setelah HISAN terbentuk sebagai organisasi resmi pesantren sebagai sarana bersilaturrahim, maka secara tersirat kita mempunyai tugas dan amanah untuk menjaga dan mengisinya.

Wallahu A’lam…[]

Sumber: KH. Tamhid Tirmidzi, Lc dan Ust. H. Qusyairi Hidayat, S.Pd

Penulis: Mahrus Az

Editor: Fakhrillah Ad-Dairoby

Tags ##hisan #nurulcholil