Media Sosial, Ladang Dakwah Santri Milenial

Rabu, 25 September 2019 23:38:41 - Posting by ncmedia - 1380 views

Media Sosial, Ladang Dakwah Santri Milenial

        Mayoritas masyarakat mulai gampang terprovokasi dengan berita yang tidak berdasar, baik secara data atau fakta. Apalagi, tidak jarang, cuitan-cuaitan paradoksal yang dilayangkan oleh sebagian sekte yang memang sengaja ingin memecah kerukunan di bumi NKRI. Bahkan yang paling baru akhir ini adalah isu adanya rasialisme. Belum lagi, sekte radikalisme, liberalisme dan tekstualisme dengan ideologi-ideologi meraka yang sangat berbahaya. Saya menyimpulkan berbahaya, karena ideolog mereka nyata tidak sesuai dengan ideologi Pancasila. Bahkan, mereka secara tidak kasat mata sudah bergerak di sosial media.

         Saya juga berkesimpulan bahwa mayoritas masyarakat sudah mulai gampang terprovokasi, karena memandang mulai banyaknya realita komentar miring, adu-domba,  saling mencacimaki dan lain sebagainya yang sering kita jumpai di media sosial.

        Sejatinya, provokasi, cuitan yang bersifat paradoks dan isu-isu yang bertujuan meretakkan tubuh NKRI, tidak begitu menjadi problem jika kita berada di dunia klasik/kuno, tahun 60-an atau sebelumnya. Karena, tidak akan langsung tersebar luas di masyarakat. Air pahit yang panas, jika didiamkan selama sepuluh menit, maka akan tinggal pahit saja. Begitu juga berita provokatif, misalnya, tidak begitu berpengaruh jika sudah basi. Namun—pada saat kita hidup di mana kekuatan jempol sudah melebihi anggota yang lainnya, sekali klik berita provokatif atau berkonten negatif,40% lebih penduduk Indonesia dapat menjaukaunya—hal ini menjadi problem yang perlu kita selasaikan bersama, karena berpotensi meretakkan keutuhan NKRI.

        Kenapa samapi 40%? Kesimpulan ini, saya peroleh dari hasil analisis; pengguna sosmed di Indonesia, menurut satu riset adalah 49%. Riset ini dilakukan oleh We Are Social, perusahaan media asal Inggris. Jika satu berita provokatif, misalnya, terjaukau oleh 20% pengguna sosmed saja, kemudian mereka mengesharenya, maka akan bertmabah berapa persen? Belum lagi, mereka akan menceritakannya di dunia nyata. Maka, kesimpulannya adalah—paling tidak—40% penduduk Indonesia akan mengetahuinya, bahkan bisa lebih.

         Dan kenapa berpotensi meretakkan keutuhan NKRI? Ada satu teori, sekuat apapun masyarakat kita menahan untuk tidak terprovokasi oleh satu berita provokatif, jika berita itu selalu muncul di beranda, halaman dan didengung kan oleh banyak orang, maka lama kelamaan mindset mereka berubah juga, yang asalnya adem jadi panas, tenang jadi terusik dan terganggu.  

        Memang, sekarang kita masih tenang, damai dan rukun, jika melihat pada fisik negara. Namun, apakah dunia maya kita setenang dengan apa yang kita lihat pada fisiknya? Saya rasa tidak. Oleh sebab itu, sangat urgen sekali, jika para santri dan alumni pesantren mengisi atau bahkan menguasai dunia maya. Kalau bukan para santri atau alumni pesantren yang mengisi konten-konten yang ada di dunia maya, siapa lagi? Masa yang mengisi orang-orang tidak jelas latarbelakangnya. Apalagi, diisi oleh sekte-sekte yang tidak sejalur dengan ideologi Pancasila. Jika dibiarkan saja, media sosial hanya diisi oleh orang-orang ini, maka jangan heran kalau suasana dunia nyata NKRI memanas terus. Dan pada akhirnya berpotensi meretakkan keutuhan NKIR.

        Tragedi di Papua yang menelan korban—asumsi saya—tidak lepas dari provokasi lewat sosial media yang dilayangkan oleh mereka yang ingin merusak kerukunan yang ada di NKRI. Sejatinya hanya permasalahan sepele, tapi oleh mereka dibuat kesempatan sebagai bahan adu-domba. Mereka dengan sengaja membuat suasana panas lewat postingan provokatif.

        Jika memandang hal di atas—santri masa kini—bukan hanya dituntut untuk memanfaatkan media sosial untuk media dakwah, bukan hanya sebagai ladang berceramah, tetapi, sebuah keniscayaan bagi santri milenial untuk memanfaatkan media digital guna menjaga keutuhan NKRI.

         Semoga bermanfaat!  Wallâhu wa’lam.

 

Penulis : Syifa'ul Qulub                             

 

                                                                 

                                                                 

 

 

Tags #