Salah Kaprah dalam Mengkritik Pemerintah

Kamis, 6 Februari 2020 19:52:09 - Posting by ncmedia - 91 views

Salah Kaprah dalam Mengkritik Pemerintah

Di era reformasi ini, nilai-nilai demokrasi sangat di junjung tinggi. Kebebasan berpendapat, kebebasan pers dan memberikan kritik pada pemerintah diberikan ruang. Hal ini pasti akan menimbulkan dampak positif dan negatif. Hal negatif yang saat ini sangat tampak adalah cacian pada pemerintah yang mengatasnamakan kebebasan berpendapat dan kritik terhadap pemerintah. Tetapi apakah semua itu dapat dikatakan kritik atau hanya alasan abal-abal pemuas hawa nafsu? Mari kita bahas.

 

Pada dasarnya, agama sangat menganjurkan kritik terhadap pemerintah yang di rasa kurang cakap dalam mengurusi urusan rakyatnya, rasulullah pernah bersabda

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Artinya: Jihad yang paling utama adalah menyatakan kebenaran terhadap pemimpin.

 

Akan tetapi ketika ada pemerintah yang kurang cakap dalam mengurusi Negara tidak serta merta seorang rakyat dapat semena-mena dalam hal ini, seseorang yang memang mempunyai kepedulian terhadap Negara, juga harus menggunakan ilmu dalam mengkritik atau menasihati pemerintah. Karena ketika niat baik tak di sertai dengan ilmu, bisa jadi hasilnya malah keburukan.

 

Dalam urusan mengkritik pemerintah, Syekh Nasir bin Abdurrazzak dalam kitabnya al-Imamah al-Udzma menjelaskan setidaknya ada tiga syarat dalam mengkritik pemerintah. Pertama; ikhlas lillahi ta’ala, tidak boleh ada motif ingin mendapat jabatan, harta, pangkat atau menjadi viral. Maka barang siapa yang menasihati atau mengritik dengan motif tersebut tak akan mendapat pahala, bahkan dia akan mendapat dosa. Kedua; kritik harus santun dan lembut dengan pilihan kata yang paling halus. Adapun untuk kritik pertama, dilakukan dengan cara sindiran kepada pemerintah kemudian apabila tetap maka dengan cara tashrih atau secara terus terang, jika masih tidak ada perubahan, diam lebih utama. Ketiga; kritik harus secara rahasia. Kitik tak boleh dilakukan secara terang-terangan di khalayak umum, menyebarkannya di surat kabar atau di mimbar-mimbar masjid.

 

Itulah tiga syarat yang harus kita penuhi dalam memberikan kritik terhadap pemerintah. Sebagai warga Negara yang baik kita harus menyampaikan kritik yang selain kritik tersebut membangun, juga sesuai dengan tuntunan agama. Ketiga syarat tersebut, ketika kita amati dengan seksama, sangat bermanfaat sekali, karena selain dapat mnyelamatkan kita dari neraka, juga dapat menjaga kekondusifan Negara.

 

Di zaman yang serba medsos ini, sering kita temukan cacian-cacian kepada pemerintah atau kritik yang sebenarnya membangun, akan tetapi dilakukan di depan khalayak umum. Mungkin maksud mereka baik dan merasa perduli terhadap Negara, akan tetapi niat baik saja tak cukup, karena semua itu akan berefek negatif baik bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat yang lain. Imam Syafi’I pernah berkata

مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ سِرًا فَقَدْ نَصَحَهُ وَزَانَهُ وَمَنْ وَعَظَهُ عَلَانِيَةً فَقَدْ فَضَحَهُ وَشَانَهُ

Artinya: Barang siapa yang menegur saudaranya dalam kedaan rahasia, maka sungguh dia telah menasihatinya dan menghiasinya, dan barang siapa menegur saudaranya di khalayak umum maka sungguh dia telah mencemarkan saudaranya.

Nabi Muhammad bersabda :

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ نَصِيْحَةٌ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلَا يُكَلِّمْهُ بِهَا عَلَانِيَّةً، وَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَلْيَخْلُ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَهَا وَإِلَّا قَدْ كَانَ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ وَالَّذِيْ لَهُ

Artinya: Barangsiapa hendak menasehati pemerintah, maka janganlah dengan terang-terangan di tempat terbuka. Namun jabatlah tangannya, ajaklah bicara di tempat tertutup. Bila nasihatnya diterima, bersyukurlah. Bila tidak diterima, maka tidak mengapa, sebab sungguh ia telah memenuhi kewajibannya dan memenuhi haknya. (HR Al-Hakim).

 

Semoga tulisan ini dapat bermafaat bagi bangsa ini yang sekarang tengah krisis adab terhadap pemerintah dikarenakan terlalu bebasnya memahami arti demokarsi.

 

Penulis: Mochamad hamim ibn Abdurrosyid

 

Tags #opini #kritik #pemerintah