Wahbah al-zuhaili dan ushul al-fiqh al islaminya

Rabu, 11 Januari 2012 19:45:52 - Posting by mimin - 432 views

Wahbah al-zuhaili dan ushul al-fiqh al islaminya

Perjalanan hidup adalah skenario takdir, sulit diikuti, sukar pula untuk kita jelajahi episode episode berikutnya. Menapaki satu persatu tangga takdir tidak semudah memainkan alat musik yang dapat dengan mudah kita intuisikan dengan setiap ritme kegemaran.

Sangat manusiawi dalam hidup menginginkan selalu berkecukupan, namun tentunya harus direnungkan, keinginan adalah ritme manusia bukan ritme penciptanya. Lalu di mana letak rahasia itu tersimpan ?

Marilah kita rekam sekaligus kita renungkan hikmah dan renungan as-Syuura sebagai paket spesial al-Qur’an dalam memahami makna dan artikulasi antara hamba berizqi dan berkekurangan.

Allah berfirman dalam ayat ke 19 :

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (19)

“Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (19)”

 

Dalam pandangan Ja’far bin Muhammad bin Aly bin Husain, Allah bersikap lembut terhadap makhluqnya dalam pemberian rizqi dapat ditinjau dari dua arah. Pertama, Allah memilihkan rizqi untuk hamba hambanya dari hal hal yang baik. Kedua, rizqi tidak diberikan dalam satu tempo sekaligus, akan tetapi dianugerahkan dengan jalan bertahap. Sehingga dengan itu makhluq tidak akan menyia nyiakan (tabdzir) pada rizqi yang telah diberikan.

Allah menganugerahkan rizqi kepada siapapun yang dikehendaki Nya. Terkadang melebihkan rizqi seseorang dari pada orang lain. Ini bukan berarti bentuk ketidak adilan atau kedzaliman. Hikmah yang dapat dipetik dari ini adalah keseimbangan kehidupan yang berlangsung di muka bumi. Perbedaan dalam pendapatan rizki akan dapat menciptakan kondisi saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Yang merasa kaya akan membutuhkan tenaga seseorang dalam mengelola harta bendanya. Sebaliknya, yang berkekurangan akan dapat menyumbangkan tenaganya demi hajat mereka atas harta si kaya.

Di sisi lain dapat pula kita fahami, bahwa kekayaan dan kefakiran adalah bentuk cobaan. Bagaimana si kaya bersikap kepada yang fakir dan apa sikap yang ditampakkan si fakir terhadap yang kaya. Kemudian akan dapat dilihat seberapa besar kesabaran mereka dalam menanggung cobaannya masing masing.

 

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ (20)

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (20)”

Sebagaimana diungkapkan Al Qusyairi, ayat ini adalah sebuah peringatan bagi setiap manusia agar tidak terbujuk oleh kehidupan dunia seperti yang telah terjadi pada orang orang kafir.

Imam Qatadah menyampaikan pemahaman menarik mengenai ayat ini. Beliau mengatakan, pada hakekatnya Allah akan tetap selalu memberikan apapun yang manusia inginkan dari kepentingan dunia selama orientasi hidupnya tetap dalam bingkai kepentingan akhirat. Dan sebaliknya, manusia hanya akan mendapatkan jatah duniawi belaka tatkala orientasi hidupnya hanyalah untuk urusan dunia. Allah telah berjanji, selama seorang hamba masih teguh memperjuangkan amal-amal akhirat, Dia akan selalu menambahkan pahala demi pahala, sekaligus menjamin porsi rizki yang tertulis untuknya. Sedangkan bagi mereka yang melalaikan akhirat, sibuk memakmurkan dunia, maka hanya penantian siksa yang akan menjadi jatahnya kelak dan ia pun tidak kuasa mendapatkan lebih kecuali atas porsi rizki dunianya.

Tujuan final dari amal dan perilaku kita atas dunia adalah akhirat. Segala bentuk tindakan yang terarahkan pada tujuan ini, sekalipun bernafaskan duniawi, Allah menjajikan kelipatan pahala perbuatannya tanpa mengenyampingkan kepentingan dunianya. Namum manakala tujuan ini telah berbalik arah, menempatkan dunia sebagai tempat tujuannya, maka siksa yang telah diancamkan Alloh akan menanti. Sebagaimana ancaman Allah terhadap orang orang kafir Makkah yang telah menuruti tuntunan dan bisikan teman sekutunya (syaitan). Seperti yang tertuang dalam ayat berikut.

 

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (21) تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (22)

 

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih (21) Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar(22).”

Tags #al #alfiqh #alzuhaili #dan #islaminya #ushul #wahbah