Kepasrahan hati atas musibah (Tafsir Surat At-Taghabun)

Rabu, 11 Januari 2012 19:49:29 - Posting by mimin - 1812 views

Kepasrahan hati atas musibah (Tafsir Surat At-Taghabun)

“Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin”.
“Manusia akan merugi jika hari ini sama dengan hari kemarin
Bahkan dia akan celaka jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin”

Dalam kehidupan, manusia ibarat wayang yang di-skenario-kan dan dimainkan atas kehendak “Sang Dalang”. Secara teologi sunni, dalam dunia perwayangan sosok dalang boleh saja memusnahkan tokoh-tokoh aliran putih atau menjayakan tokoh aliran hitam di muka bumi. Namun jangan pernah dilupakan “Kullun Muyassarun Lima Khuliqa Lahu”, bahwa semuanya akan dimudahkan atas apa yang akan dijadikan (taqdir-kan) baginya.
Dalam sebuah haditsnya Abi Dzarr yang diriwayatkan Muhammad bin Manshur At Thousi dijelaskan bahwa ketika air mani telah mengeram di dalam rahim selama 40 hari, malaikat menghadap dan bertanya kepada Alloh, “Wahai Tuhanku, apakah hamba Mu ini akan Engkau ciptakan berjenis kelamin laki laki atau perempuan?” Dan Alloh akan menetapkan kepastian jenis kelamin bakal bayi itu. Kemudian malaikat bertanya lagi, “Wahai Tuhanku, apakah hambamu ini akan Engkau jadikan sebagai orang yang celaka ataukah orang yang beruntung?” Selanjutnya Alloh akan mencatat ketetapan nasib bakal bayi itu.
Manusia dalam ilustrasi ini memiliki peran yang sedikit berbeda dibandingkan hanya sekedar wayang. Dalam menciptakan manusia Allah berkenan menganugerahkan sebuah kehendak, dianugerahkan pula nafsu dan akal. Dengan dua modal inilah muncul beragam karakter ‘wayang baru’ bernama manusia, adakalanya manusia berwajah protagonis (baca: mukmin) maupun bertopeng antagonis (kafir). Namun jangan pernah melupakan, Allah lah yang menggariskan semuanya, Dia menciptakan mukmin dan kafir dan akan mengembalikan mereka dalam keadaan mukmin dan kafir selaras kehendak taqdir-Nya. Allah pula yang telah menciptakan perwujudan manusia lebih mulia dan lebih sempurna dibandingkan makhluk Allah lainnya, meskipun terkadang satu dengan yang lain berbeda-beda kualitas kesempurnaannya. Ada yang cantik namun ada juga yang jelek, hanya saja semuanya tahu bahwa yang terjelek pun akan merasa lebih sempurna jika ia menyaksikan makhluk selain manusia di muka bumi. Sehingga ia pun tidak akan pernah berharap dirinya menjadi makhluk lain, selain manusia. Allah berfirman :

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (1) هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (2) خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (3)

“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi; hanya Allahlah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji-pujian; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (1) Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(2) Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali (mu). (3)

Tidak ada satu pun yang tidak pernah diketahui Allah. Segala apa yang ada dan terjadi selalu dalam intaian Nya. Termasuk segala yang pernah tersimpan rapat di lubuk hati yang paling dalam sekalipun. Karena itulah Alloh memperingatkan kepada hambaNya. “Takutlah kalian untuk merahasiakan selain yang engkau lahirkan. Atau memendam di hati kalian selain yang engkau tampakkan”

يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (4)

Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (4)

Demikianlah fase demi fase perjalanan hidup manusia di dunia ini. Sejarah tak hanya mencatat dan merekam perjalanan kehidupan. Allah mengisahkan kejadian-kejadian yang  menimpa umat-umat terdahulu sebagai pelajaran berharga bagi manusia zaman ini. Bagaimana azab di dunia menimpa para pengingkar utusan-Nya Mereka menyangka tidak akan ada pertanggung jawaban setelah mati. Dengan teramat congkaknya mereka mengatakan, “Apakah manusia yang sejenis dengan kami yang akan memberikan petunjuk kepada kami?” Mereka merasa malu untuk mengikuti petunjuk utusan Allah yang dianggapnya sepadan. Tanpa menyadari betapa apa yang telah mereka lakukan tidak akan peranah sekalipun menguntungkan Allah, apalagi membahayakan Nya. Bahkan perbuatan itu pasti akan merugikan diri mereka sendiri. Allah maha kaya atas perbuatan perbuatan mereka.

أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ فَذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (5) ذَلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا وَاسْتَغْنَى اللَّهُ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (6) زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (7) فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (8)

 

“Apakah belum datang kepadamu (hai orang-orang kafir) berita orang-orang kafir dahulu? Maka mereka telah merasakan akibat yang buruk dari perbuatan mereka dan mereka memperoleh azab yang pedih. (5) Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan lalu mereka berkata: “Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?” lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (6) Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (7) Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (8)

Mereka yang beriman selalu menanti kebahagiaan hakiki tanpa harus merasa kalah dalam kehidupan duniawi. Kekurangan duniawi hakikikatnya bukan lah kerugian, akan tetapi kerugian dan keuntungan hanya akan dapat dibuktikan di dunia kekal nanti.
Kehidupan akhirat dengan isyarat “Yaum at-Taghabun” adalah cermin kehidupan sejati. Artinya, di sinilah akan nampak jelas mereka yang beriman mendapatkan keberuntungan yang besar karena mendapatkan tempat-tempat mulia, menggantikan jatah kursi mereka yang telah sekian lama mereka duduki dengan pongah dan merasa abadi. Sebaliknya mereka yang tidak beriman akan nampak merugi karena terpaksa harus mendapatkan tempat-tempat terhina, menggantikan jatah kursi dari mereka yang beriman. Allah berfirman :

يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (9) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ خَالِدِينَ فِيهَا وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (10)

“(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar (9) Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”.

Musuh-musuh Allah mengatakan : “Wahai engkau umat Islam, andai saja agamamu adalah agama yang benar, niscaya Tuhan tidak akan menurunkan cobaan dan kesengsaraan sedemikian rupa kepada kalian”. Allah menegaskan dalam al-Qur’an-Nya, bahwa semua itu hanya lah dari Allah dan atas izin Allah. Mereka yang menyadarinya dan pasrah dengan tulus hati dalam menanggung musibah itu, merekalah yang beruntung telah mendapatkan petunjuk Allah.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (11) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (12) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (13)

 

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (11) Dan ta`atlah kepada Allah dan ta`atlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (12) (Dia-lah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mu’min bertawakkal kepada Allah saja. (13)

Bukan hanya ke-kafir-an yang menjerumuskan sosok hamba untuk enggan mempercayai “setiap musibah adalah kehendak Allah”, bahkan kerancauan akal serta sisi kemanusiaan yang terlalu dilebih-lebihkan dapat menghitamkan dan membiaskan setiap nilai keimanan seorang manusia, bahkan muslim sekali pun. Dalam era kekinian, kilas balik kejadian di atas dapat kita saksikan dalam pemberontakan teologi oleh hati yang kelam dan fikiran yang keruh bertajuk “Tuhan kami tidak kejam”. Di mana pemikiran ini menjadi isyarat bagaimana rasionalitas manusia terus bergerak mencoba melepaskan diri dari nilai dan kode etik ketuhanan.
Berbagai bencana dahsyat menimpa umat manusia, berbagai malapetaka silih berganti, tsunami, gempa bumi, tanah longsor dan sulitnya mengais sesuap nasi seolah semuanya menjadi muqadimah dari kiamat. Kemudian apa yang mereka katakan ?. Manusia pertama mengatakan, “Saya tidak percaya bahwa itu adalah Tuhan, terlalu bengis dan kejam kalau itu dilakukan Tuhan”, manusia lain bersenandung, “Hatiku merasa ini bukan taqdir Tuhan, karena Aku yakin Tuhan tak mungkin korbankan ratusan jiwa”.
Maha suci Allah, Tuhan seru sekalian alam, terbukti sudah firman Allah “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”. Hati yang beriman akan selalu diberikan kemudahan untuk meyakini bahwa segala musibah adalah dengan izin Allah dan atas kehendaknya. Manusia, sebagai hambanya yang lemah dan ringkih ditugaskan untuk ber-tawakal berserah diri dan menerima apa yang di-taqdir-kan kepadanya. Semoga….amien..!

* Oleh : Ust. Fauzi Hamzah & Ust. Darul Azka

Tags #atas #attaghabun #hati #kepasrahan #musibah #surat #tafsir